Candi Borobudur Dari Kejayaan hingga Pelestarian
Candi Borobudur, yang berlokasi di Magelang, Jawa Tengah, merupakan salah satu situs warisan budaya dunia yang sangat monumental dan menjadi candi Buddha terbesar di dunia. Pembangunan Borobudur dimulai pada masa Dinasti Syailendra antara abad ke-8 hingga ke-9 Masehi, ketika pengaruh ajaran Buddha Mahayana berkembang pesat di Jawa. Dinasti ini dikenal sebagai pendukung ajaran Buddha dan memiliki visi besar untuk mendirikan sebuah tempat ibadah sekaligus pusat ziarah. Dibangun menggunakan sekitar dua juta blok batu andesit, Borobudur memakan waktu sekitar 75 hingga 100 tahun untuk diselesaikan. Raja Samaratungga diperkirakan memainkan peran besar dalam penyelesaian candi ini, yang kemudian diteruskan oleh putrinya, Pramodhawardhani. Pembangunan candi ini diperkirakan selesai pada tahun 825 M, menjadikannya salah satu mahakarya arsitektur terbesar di Asia Tenggara pada masa itu.
Secara filosofi, Borobudur menggambarkan perjalanan spiritual umat Buddha menuju pencerahan atau nirwana. Struktur candi terdiri dari 10 tingkat, yang masing-masing melambangkan tingkatan dalam kehidupan spiritual. Bagian paling bawah, Kamadhatu, menggambarkan dunia yang masih dikuasai oleh hawa nafsu dan karma. Relief di bagian ini memperlihatkan kehidupan manusia yang terperangkap dalam penderitaan akibat nafsu duniawi. Di atasnya terdapat Rupadhatu, yang melambangkan dunia bentuk, di mana manusia mulai meninggalkan nafsu tetapi masih terikat oleh wujud dan bentuk jasmani. Pada tingkatan ini, relief bercerita tentang kehidupan Siddhartha Gautama dan ajaran Buddha, memberikan panduan bagi peziarah untuk menapaki jalan menuju kebijaksanaan. Tingkat tertinggi, Arupadhatu, menggambarkan dunia tanpa bentuk, yaitu pencapaian tertinggi dalam ajaran Buddha, di mana seseorang telah mencapai pencerahan sempurna. Di bagian atas candi terdapat stupa utama sebagai simbol puncak kebijaksanaan, dikelilingi oleh 72 stupa kecil yang masing-masing berisi arca Buddha dalam berbagai sikap meditasi.
Keunikan Borobudur tidak hanya terletak pada desain arsitekturnya yang luar biasa, tetapi juga pada fungsinya sebagai mandala raksasa, yaitu diagram kosmis yang menggambarkan struktur alam semesta menurut ajaran Buddha. Candi ini dibangun tanpa menggunakan perekat apa pun, melainkan dengan teknik interlocking, di mana batu-batu andesit dipasang sedemikian rupa sehingga saling mengunci. Borobudur tidak hanya berperan sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi pusat pengetahuan dan spiritualitas pada masanya. Lokasi candi yang strategis, dikelilingi oleh pegunungan dan berada di antara dua sungai, semakin mempertegas keterkaitannya dengan konsep spiritualitas dan harmoni alam.
Namun, seiring dengan berkembangnya agama Islam di Jawa pada abad ke-14, Borobudur mulai ditinggalkan dan kehilangan fungsinya sebagai tempat ibadah. Selain itu, perpindahan pusat kekuasaan ke Jawa Timur menyebabkan candi ini semakin terlupakan. Dalam beberapa abad berikutnya, Borobudur terkubur di bawah abu vulkanik dari letusan Gunung Merapi dan tertutup oleh tumbuhan liar, sehingga keberadaannya nyaris terlupakan. Hingga akhirnya, pada tahun 1814, Sir Thomas Stamford Raffles, yang saat itu menjadi Gubernur Inggris di Jawa, mendengar laporan mengenai sebuah monumen besar yang tersembunyi di dalam hutan. Raffles mengirim seorang insinyur Belanda bernama H.C. Cornelius untuk meneliti situs tersebut. Penemuan Borobudur membuka kembali perhatian dunia terhadap keberadaan dan kemegahan candi ini, meskipun sebagian relief dan arca sudah mengalami kerusakan parah.
Pemugaran besar-besaran pertama Borobudur dilakukan pada awal abad ke-20 di bawah arahan Theodoor van Erp, seorang arsitek dan insinyur Belanda. Pemugaran ini berfokus pada perbaikan struktur dan beberapa arca yang rusak, meskipun upaya tersebut masih belum bisa menyelesaikan masalah utama terkait kestabilan candi. Proyek pemugaran modern baru dilakukan secara menyeluruh pada tahun 1973 hingga 1983, bekerja sama antara pemerintah Indonesia dan UNESCO. Selama proyek ini, lebih dari satu juta batu dibongkar dan dipasang ulang untuk memperkuat struktur. Sistem drainase juga diperbaiki guna mencegah kerusakan akibat genangan air. Setelah proyek ini selesai, Borobudur secara resmi dinyatakan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO pada tahun 1991.
Hingga kini, Borobudur tetap menjadi pusat penting bagi ritual agama Buddha, terutama pada perayaan Waisak yang diadakan setiap tahun. Ribuan umat Buddha dari berbagai negara berkumpul di Borobudur untuk merayakan hari kelahiran, pencerahan, dan wafatnya Buddha Gautama. Selain sebagai tempat ibadah, Borobudur juga menjadi destinasi wisata utama Indonesia yang menarik jutaan pengunjung dari dalam dan luar negeri setiap tahun. Untuk menjaga kelestarian candi ini, pemerintah Indonesia memberlakukan batasan jumlah pengunjung dan menerapkan aturan ketat mengenai akses ke bagian puncak candi.
Tulis Komentar
Anda harus login dulu untuk menulis komentar.